Emaknya ZAZ Baper

Bismillah,

Emaknya ZAZ pernah ceritakan pernah mengunjungi kakek dan neneknya Akhtar untuk ikut uwaknya ZAZ, mengantar pohon cengkeh. Sekedar jalan-jalan ke bandung beli es krim.

Neneknya Akhtar bercerita tentang kakeknya Akhtar selagi masa sulitnya di waktu muda, seakan mengingatkan masa sulit yang saya alami itu tidak sebanding dengan yang dialami beliau.

Oleh karena pengalaman sulit selalu berpihak padanya. Dari semenjak dia kecil, beliau dititipkan ke budenya. Ibu dan ayahnya pergi meninggalkannya. Hmm, mengalami ditinggal oleh ayah saja sudah sangat membuatku bersedih, apalagi beliau yang dititipkan begitu saja oleh kedua orang tuanya.

Di tempat budenya, beliau diminta untuk melakukan pekerjaan dapur dan rumah tangga. Seiring mulai membesar, beliau berontak dan mulai mencari pekerjaan untuk membiayai hidupnya dan melanjutkan sekolah. Awal pekerjaannya dimulai dari satpam di Pertamina dan saat ini dia memiliki jabatan penting di perusahaan tersebut.

Beliau adalah seorang pekerja keras, sering pergi dinas ke luar kota meninggalkan istri dan anaknya.

Ketika bubunya Akhtar masih anak-anak dan sedang sakit. Sebagai Istri, neneknya Akhtar ingin mengabarkan anaknya sakit. Lalu jawaban beliau, “Loh kok malam telepon saya, kenapa tidak dibawa ke dokter saja.”

Tidak ada nada kekhawatiran. Semenjak itu, neneknya Akhtar berusaha sebisa mungkin melakukan sendirian tanpa mesti menyusahkan dan menambah pikiran suami.

Sekilas nampak tidak punya perasaan. Namun, beliau ada benarnya. Karena memang tidak bisa berbuat apa-apa di kala jauh dari rumah. Dan aku lihat pun, Beliau memang tipe yang sangat memperhatikan kebutuhan anak-anak dan cucu-cucunya.

Terkadang kehidupan, seorang wanita menuntut kemandirian. Meski memiliki suami. Sedangkan aku malah melemahkan diri sendiri. Aku menyadari tidak ada pendamping hidup yang bisa diajak berbagi mengenai tumbuh kembang anak. Tapi, aku masih mencari mantan ketika ZAZ sakit. Meski pada akhirnya, aku tersadar. Keadaan ZAZ baik suka maupun duka, bukan informasi yang ia butuhkan.

Lelaki yang masih berstatus suami saja bisa tidak fokus pada keluarga ketika bekerja. Apalagi sudah tidak ada ikatan. Aku hanya bisa berdoa, untuk kebaikan ayahnya ZAZ.

Alhamdulillah ala kulli hal.

Advertisements
Posted in Game Level 1 | Leave a comment

Kami Bisa Cerdas Emosi #3

Bismillah,

Kenapa ZAZ, seperti terlihat cengeng. Itu salah emaknya. Karena untuk mendapat perhatian ZAZ, suka berpura-pura nangis.

Tadinya saya sudah berniat mau melanjutkan tantangan hari ke 13. Tapi seperti biasa nidurin ZAZ dulu. Tapi rupanya, saya ikut ketiduran.

Padahal sebelum tidur, saya sudah mengajak ZAZ untuk melihat bermacam-macam emosi dan ekspresi di internet. Bahkan Emaknya pun menonton materi mengenai kecerdasan emosional dulu. Sebagai amunisi menulis.

Qadarullah, memang bukan saatnya saya mendapatkan badge bergengsi itu. Tapi untuk sekarang meski urung menulis rutin untuk tantangan bunsay game level 3. Menulis tetap lanjut untuk bisa setor nulis di grup ODOP99.

Saya mau share link apa yang aku tonton semalam:

RAHASIA MELATIH KECERDASAN EMOSIONAL ANAK: https://youtu.be/3MGUNWR9tmg

Saya pun harus menonton ulang dan mulai mempraktekan materi yang di dapat di video ini.

Saya belum menemukan link kece untuk ZAZ belajar mengenal emosi. Adapun berbahasa inggrissaya menghindari terlebih dahulu bahasa yang berbeda. Tapi apa daya, kami tonton juga. ZAZ pun fokus menonton meski kadang dia tertarik menonton yang lain dan bermain dengan aplikasi “Buaya”. Emaknya melarang muka ZAZ pun cemberut

Ada pun flash card emosi berbahasa indonesia yang bisa diunduh, tapi ekspresinya tidak terlalu terlihat.

Ekspresi dasar yang akan ZAZ kenal: Senyum, senang, sedih, kecewa, marah, lapar, haus, panas, gerah, dingin, lelah, mengantuk, terkejut, takut dan tertarik.

Hanya itu yang mampu saya ingat. Saya pun mesti mencari tau perbedaan mad dan angry, afraid dan scared.

Apa yang menjadi ceklis saya ke depannya yaitu dengan terus mengenal berbagai emosi di saat mood ZAZ tepat.

Jika ZAZ sedang senang atau sedih, saya akan tanyakan perasaannya saat itu dan membantu menggali perasaannya.

ZAZ beproses, Emaknya berproses

Alhamdulillah ‘ala kulli ni’mah

Posted in Game Level 1 | Leave a comment

Kami Bisa Cerdas Emosi #2

Bismillah.

Lelah hayati, entah mengapa segala sesuatu yang dikerjakan dengan tujuan mendapatkan uang tidak dapat membuatku bersyukur. Inginnya memberi saja, tapi da bakat, bakating ku butuh.

Aku tarik napas dulu. Tekanan emosi pada diri ini bisa berpengaruh pada kondisi ZAZ. Segala sesuatu jadi sensitif dan akhirnya marah-marah yang tiada guna.

Sebenarnya tantangan meningkatkan kecerdasan emosional ini, lebih mendukung untuk curhat. Emaknya ZAZ, harus kembali belajar. Untuk mengetahui jenis-jenis emosi.

Dari dulu, perasaanku lurus-lurus aja. Jarang menunjukkan ketertarikan pada hal yang membuat tertarik, tidak berempati ketika melihat orang sedang kesusahan. Dan masih banyak lagi.

Sudah cukup ya, mengeluarkan unek-unek emaknya ZAZ. Sekarang, aku kembalikan panggung ke ZAZ.

Emaknya ngetest ZAZ tentang emosi yang diketahui ZAZ di cermin. Pada saat itu, suasana hati ZAZ sedang baik. Ketika aku pinta untuk tersenyum, ZAZ menunjukan dengan bibir merekah. Tapi ketika aku pinta untuk bersedih, wajah ZAZ berusaha sedih tapi tetap senyuman tersungging di sudut bibirnya.

Padahal, ZAZ tau ketika ada yang nangis dia akan berkata nangis. Ketika ada yang marah, ZAZ tau. Meski, ketika ZAZ marah; tangisan keras, pukulan dan tendangan yang dia lakukan.

Ekspresi meluapkan emosinya masih membawa kebiasaannya dari bayi. Yaitu dengan menangis.

Eheu eheu eheu

itu tandanya ZAZ ingin diperhatikan oleh emaknya. Manjanya seperti itu. Emaknya sedikit terganggu, karena ga ngerti apa yang diinginkan ZAZ.

Ok, test kali ini, menandakan emaknya mulai berproses dari nol ya, meski hampir 3 tahun terlewati.

Mulai dari mencari referensi tentang macam-macam emosi dasar. Mungkin aku akan tunjukan melalui gambar-gambar.

ZAZ berproses, Emaknya berproses

Alhamdulillah ‘ala kulli ni’mah

 

 

 

 

Posted in Game Level 3 | Tagged , , , | Leave a comment

Kami Bisa Cerdas Emosi #1

Bismillah.

Emaknya ZAZ masih tetap mau konsisten untuk menjadikan tim keluarga ZAZ bertauhid. Cuma kok, ketika laporan tantangan jadi muter-muter. Itu lagi, itu lagi, yang emaknya ZAZ tulis.

Refreshing, biar ga merasa bosen. Karena rasa bosan ga hilang hanya dengan menerima apa adanya. Tapi, bagaimana caranya, menambah dengan sesuatu yang baru.

Pas banget dengan cemilan yang diberikan teteh Fasil yang di share di grup kelas bunsay untuk mengeksplorasi hal baru. Biar tau emosi apa saja yang terikat dalam kegiatan itu.

Seringkali mendengar untuk mengetahui bakat anak yaitu dengan melihat matanya yang berbinar-binar dan mengerjakannya berulang-ulang. Sampai saat ini, emaknya ZAZ belum bisa mengetahui ZAZ ketika matanya sedang berbinar-binar.

Jadi sambil mencatat dalam tantangan melatih kecerdasan emosional ZAZ. Sambil mengasah kepekaan saya pada emosi dan keinginan ZAZ.

Untuk mengenal emosi dasar seperti; sedih diperlihatkan dengan menangis dan muka cemberut! bahagia dengan tersenyum, wajah berbinar bahkan sampai tertawa; marah tapi saya belum tau bagaiman cara menunjukkan rasa marah selain teriakan, tangisan dan memukul (tantrum pada anak), ya mungkin cukup berkata “marah”; Jijik dengan berkata “hih jijik”, takut dengan berkata “takut”.

Saya biasanya mengajak ZAZ bercermin yang paling mudah itu ekspresi sedih dan senyum.

Targetku dalam membersamai ZAZ untuk meningkatkan kecerdasan emosional yaitu bisa mengungkapkan emosi dengan kata-kata tidak dengan tangisan. Sehingga bisa langsung diketahui, apa yang diinginkan oleh ZAZ. Dan bisa mengendalikan diri ketika marah yang bisa jadi membawa ketidaknyamanan.

Klau sudah mengenal emosi diri. Emaknya mengharapkan mengenal emosi orang lain. Sehingga bisa nyaman satu sama lain jika hidup berdampingan.

Hidup nyaman dengan emosi yang terkontrol.

ZAZ berproses, Emaknya Berproses.

Alhamdulillah, semoga curhatan emaknya ZAZ bermanfaat.

Posted in Game Level 3 | Tagged , , , | Leave a comment

Kami Bisa Bertauhid #10

Bismillah

Masih melanjutkan bagaimana cara menenangkan ZAZ kalau menangis, berteriak, memukul-mukul dan marah. Dengan emaknya ZAZ bilang sabar, sambil mengucap istigfar belum terlihat efeknya.

Hari ini, kami sedang bertamu ke rumah kakek dan neneknya Akhtar. Seperti biasa, ZAZ rebutan mainan dengan Neng Dhiya. Duh padahal hanya kartu hadiah dari cemilan anak. Kemudian, yang nangis ZAZ duluan lah. Entah karena berusia dan bertubuh lebih kecil atau karena ZAZ memang cengeng. Tangisannya begitu keras.

“Sst,” aku berusaha menghentikan tangisan ZAZ. Ga enak sama tuan rumah, kan. Ah, tiba-tiba tuan rumah memberikan mainan bunga kepada ZAZ. Dan tangis ZAZ pun mereda.

OK, jadi merasa tidak menjadi ibu yang baik. Karena tidak peka terhadap keinginan ZAZ.

Aduh, seharusnya aku tidak berprasangka buruk dan tidak mengharapkan hasil cepat. Tapi harus menikmati proses. Kan aku sendiri bisa melihat hasi dari tantangan kemandirian bulan kemarin, mulai terlihat bulan ini.

Aku harus tetap semangat dan tidak bosan untuk terus meningkatkan kecerdasan spiritual diriku dan ZAZ.

Karena aku meyakini, dengan mengingat Allah hati tenang.

Tapi rasanya, aku menulis tantangan ini sudah melantur kemana-mana. Jadi jikalau saya mau meneruskan tantangan 5 hari ke depan. Tentu saja untuk mengejar badge outstanding performance. Saya akan mulai mengamati kecerdasan emosional diriku dan ZAZ.

Ya, emosiku sendiri masih naik turun. Aku masih berkutat pada keegoisan diri. Tanpa memikirkan dampaknya pada ZAZ. Bagaimana bisa mengajarkan ZAZ untuk bisa mengontrol emosinya kalau emosi emaknya juga tidak terkontrol.

Menjadi teladan untuk anak sendiri diperlukan pembelajaran terus menerus.

ZAZ berproses, Emaknya Berproses.

Alhamdulillah, semoga tulisan yang hanya curhat ini bisa bermanfaat.

Posted in Game Level 3 | Tagged , , , | Leave a comment

Kami Bisa Bertauhid #9

Bismillah

Alhamdulillah, dalam pengamatan hari ini, ZAZ bisa mengucapkan Bismillah dengan lagam mengaji anak ketika akan makan.

Mungkin ZaZ tau, kalau emaknya egois. Hanya ingin beraktivitas sendirian dan tidak mau menyertainya bermain.  Saya tidak mau menemaninya karena sudah malam dan seharusnya sudah tidur. Saya mengizinkan ZAZ bermain sendiri, sementara saya sendiri ingin beristirahat. ZAZ dan emaknya pada pendirian masing-masing.

“Ga mau-eun, Sama mama ajah.”

Akhirnya ZAZ menangis terus, meski emaknya sudah berkata maaf dan meminta ZAZ untuk memberi waktu emaknya untuk beristirahat. Ketika ZAZ sedang tantrum karena emaknya tidak memenuhi keinginan ZAZ. Pelukan pun tidak berefek. Pengontrolan emosi dengan berdzikir belum bisa menyentuh hatinya.

Aku sebenarnya ingin selalu mengkaitkan segala kegiatan ZAZ dengan konsep ketuhanan. Dan sebagai ibu, haruslah banyak mengaji agar bisa mengajarkan kembali pada ZAZ.

Di saat ZAZ ingin jajan es krim, dan tidak ada budget untuk itu. Aku harus mengajak berbicara ZAZ untuk bersabar dan meminta es krim pada Allah. Alhamdulillah, kalau tentang ini dia mengerti.

Qadarullah, ada yang memberikan ZAZ es krim. Aku pun mengambil kesempatan ini untuk mengenalkan kebesaran Allah yang Maha Pemberi Rezeki.

“Tuh, Neng. Allah mendengar doa kita tadi.”

Mencoba terus untuk memperkenalkan Allah kepada ZAZ, meski diri ini merasa kurang ilmu agamanya. Semoga, menjadi ibu, aku bisa menambah wawasan mengenai agama dan kecintaan pada Allah swr.

Menulis tantangan bunsay hari ini, sambil menemani ZAZ bergadang karena tadi magrib ZAZ tidur dan terbangun saat isya. Bersyukur, ZAZ anteng dengan mainannya sendiri. Dan aku bisa sambil berkegiatan di dunia maya.

Dengan mengingat Allah hati tenang.

ZAZ berproses, Emaknya Berproses.

Posted in Game Level 3 | Tagged , , , | Leave a comment

Kami Bisa Bertauhid #8

 

Bismillah…

Menulis pengamatan setiap game level di kelas bunsay ini selalu saja malam. Mepet-mepet deadline gitu.

Semoga tidak ketiduran biar ga rapel. Terus, jadi bisa dapat badge outstanding performance yang belum pernah emaknya ZAZ dapatkan.

Hari ini, masih belum mebersamai anak di siang hari. ZAZ sudah anteng main sendiri. Sedangkan emaknya anteng dengan kesibukan sendiri.

Sesekali ZAZ nonton film Moana yang dimainkan berkali-kali. Emaknya sih sudah bosan tapi sepertinya ZAZ tetap menikmati. Bahkan, ZAZ ikut bernyanyi ketika Moana bernyanyi, meski dia tidak tau bahasanya.

Aku selalu berpikir, apakah dengan bernyanyi bisa menghambat kecerdasan spiritual. Karena ZAZ sudah terbiasa dengan nyanyian biasa. Sedangkan lantunan Alquran sangat jarang diperdengarkan.

Tentu saja, aku ingin ZAZ bersahabat dengan Alquran. Tapi ya balik lagi ke emaknya. Apakah sudah sering memperlihatkan baca Alwuran di depan ZAZ.

Jika, aku mengamati ZAZ, dia senang sekali membuka Alquran yang aku simpan di tempat penyimpanan barang dekat tempat tidur. ZAZ membaca seakan sedang bertilawah.

Ya lagi-lagi balik ke keteledanan orang-orang di sekitar ZAZ. Jika kita menunjukan kecintaan pada sesuatu, mereka akan menyerapnya. Memang mereka bukan lembaran kosong, sudah terinstall berbagai fitrahnya. Termasuk fitrah keimanan dan belajarnya.

Ketika aku  bertanya pada ZAZ tentang siapa yang menciptakan ZAZ. Dia belum mampu menjawab. Kecuali aku menyebut huruf pertama, maka ZAZ bisa melengkapi.

Perlu proses dan kesabaran untuk meningkatkan kecerdasan khususnya apa yang sedang aku lakukan. Apalagi, ilmu agamaku masih awam.

Ya Allah, Ya Rasyid. Berikanlah kami ilmu yang bermanfaat di dunia dan menjadi bekal untuk di akhirat.

Jalan menuju agen perubahan yaitu dengan merubah diri sendiri lalu keluarga.

Dengan mengingat Allah hati tenang.

ZAZ berproses, Emaknya Berproses.

Posted in Game Level 3 | Tagged , , , | Leave a comment