Sugesti Positif untuk ZAZ

Cemilan hari ini, kok saya menyimpulkan bahwa saya itu laki banget. Apa karena saya pernah berperan sebagai Ayah bagi anakku, hmmm.

Membaca materi komunikasi produktif, itu seperti kita harus bisa memberi sugesti positif. Caranya gimana supaya sugesti positif itu bisa diterima oleh ZAZ. Yaitu dengan mengusahakan ZAZ dalam kondisi rileks. Nah ini akan jadi PR saya selanjutnya… entah kapan bisa dikerjakan #eh ganti kalimat motivasi # semoga bisa secepatnya bisa menemukan cara yang efektif biar ZAZ rileks.

Untuk sekarang, sugesti positifnya saya lakukan di awal tidur dan keesokan harinya.

“Neng, mamah ingin kamu jadi anak sholehah, dan kelak istri sholehah serta ibu sholehah”

“Neng, mamah ingin kamu bisa makan tepat waktu. Mamah ingin neng makan semua makanan yang tersedia untuk neng”

“Neng, mamah ingin kamu bisa mandiri, mamah ingin kamu bisa ke pipis sendiri ke kamar mandi”

Dan lain-lain

PR lagi untuk mengumpulkan sugesti positif untuk ZAZ.

ZAZ berproses, Emaknya Berproses

Advertisements
Posted in Game Level 1 | Tagged , , , | Leave a comment

Makan dan makan lagi?

ZAZ termasuk picky eater. Sayangnya, saya belum tertantang untuk memasak. Hebatnya anak picky eater, sudah bisa menolak kalau melihat makanan. Meski dia kecolongan satu sendok makanan, jika di dalamnya ada sayur, ZAZ langsung lepeh.

Meski saya rayu,

“Ayo, biar perutnya terisi”, “Biar ada tenaga untuk bermain”, dll

Kalau sudah tidak mau, Gerakan Tutup Mulut sudah. Ada pun berhasil masuk satu sendok, makanan didiamkan dalam mulut.

Hari ini saya memulai hari dengan menanyakan, “Mau makan apa hari ini, Neng?”

Namun saya belum mendapatkan jawaban yang jelas. Akhirnya, saya sebutkan satu persatu makanan favoritnya. Pilihannya kali ini jatuh pada pisang.

Ga apa-apa yang penting perutnya terisi.

ZAZ berproses, Emaknya berproses.

Posted in Game Level 1 | Tagged , , | Leave a comment

Suka-suka ZAZ Saja

Menyekolahkan ZAZ di PAUD, memang tidak menjadi keinginanku. Saya pun tidak terlalu memaksakannya.

Saya amati, meski banyak mainan dan aktivitas yang seru. Mata ZAZ tidak berbinar-binar. Namun sesekali ZAZ bernyanyi lagu-lagu yang diajarkan di PAUD, waktu sedang di rumah.

ZAZ bisa sedikit mengikuti dan menyimak aktivitasnya.

Entah karena umur ZAZ masih terlalu dini, jadi jam bangun selalu lebih siang dibanding jam masuk PAUD. Jadi drama membangunkan ZAZ, selalu terjadi. Aku terkadang kembali pada niat awalku agar tidak memaksa ZAZ. Akhirnya membiarkannya untuk bangun sekehendaknya.

Setelah bangun, mandi dan sarapan. Saya mencoba mengajak ZAZ ke sekolah.

“Neng, da anak sholehah, ikut mamah ke sekolah yah, disana sudah ada temen-temen yang menunggu,” bujukku.

“Ga mau sekolah, disini aja main,” tolak ZAZ.

Akhirnya kubiarkan dia bermain sendiri. Lama-kelamaan dia bosan dan mengajak pergi ke Sekolah. Sayangnya, jam sekolah sudah usai. Tapi berhubung sekolah dekat rumah uyutnya  saya tetap mengajaknya pergi.

Semau saja lah, ZAZ. Yang penting dirimu hepi. Kemarin-kemarin saya greget sama tingkah laku ZAZ. Ditambah neneknya tuh bilang, masa kalah ama tetangga. Jadi drama deh.

ZAZ berproses, Emaknya Berproses.

Posted in Game Level 1 | Tagged , , , | Leave a comment

Emak harus tegas

Hari ini seperti biasanya, saya membiasakan diri dengan tantangan berkomunikasi produktif dengan ZAZ. 10 hari waktu yang singkat untuk mengamati perubahan pada anak. Tapi ketenangan dalam menghadapi anak sedang rewel terasa.

Marah identik dengan teriak sampai fisik. Adakah marah yang bijak?apakah marah tidak dengan teriakan itu ada? Aku masih mencari jawaban untuk itu.

Seumur ZAZ belum pantas ada punishment. Cuma saya mencoba untuk mempertegas aturan.

“Mamah marah kalau neng masih mengompol di kasur, atau pipis dimana saja, nanti mamah kasih hukuman, nanti nrng langsung dibawa ke kamar mandi lalu dibanjur air dingin”

diam sejenak

“Mamah harap neng jadi anak baik, bisa pipis di kamar mandi, kan sudah besar, dulu aja bisa menahan pipis”

Insya Allah, bukan sekedar janji, saya akan mengikuti aturan yang saya buat sendiri. Harus tega(s).

ZAZ jadi sering tidak bisa menahan pipis, apakah karena akhir-akhir ini udaranya mendingin?

ZAZ berproses, Emaknya berproses

 

Posted in Game Level 1 | Tagged , , , | Leave a comment

Nostalgia #1 Detak Jantung

Kemarin baru saja menyelesaikan naskah kisah inspiratif tentang Perjalanan (R)asa. Seperti biasa, tulis, wawancara dan kirim naskah di hari-hari terakhir. Alasannya macam-macam moody, tidak ada ide, manajemen waktu atau lebih suka berpacu dengan waktu. Geber pokokna

Back to topic.

Kisah yang ditulis bukan tentang saya. Awalnya, saya menulis naskah sekitar 4 halaman A4  dengan POV aku dan temanku (yang punya kisah). Sesudah selesai dalam sehari. Saya mintalah kritik dan saran kepada beberapa teman. Salah satu feedback yaitu cerita bagus namun lebih nyess, kalau kisah temanku diceritakan dengan POV kesatu. Saya tertantang meski belum terbayang berada di sepatu yang sama dengan si empunya kisah. Sebagai penulis, saya harus mendalami kisah temanku dengan kembali ke sesi wawancara dan menyamakan rasa. Sebagai Aku, saya mulai berperan menjadi temanku.

Di salah satu bagian ceritanya saya terbawa pada masa lalu ketika sedang hamil ZAZ, kehamilan pertama, kehamilan yang diinginkan. Meski dulu pas melihat test pack positif saya gak senang keblinger kayak cerita pasangan jatuh cinta baru nikah, yang ada pertanyaan, “Ini bener gituh”

Dari situ, konsultasi ke dokter dan cek USG. Detak jantung pertama kali terdengar di sekitar minggu ke tujuh dari mulai terjadi pembuahan (kalau ga salah ingat, kasih tau kalau salah, soalnya saya lagi malas googling). Setiap detak jantung ZAZ, aku dengarkan sambil melihat layar USG melihat letak jantung berdenyut di janin. Detak yang menghinoptisku untuk menyerahkan seluruh hatiku padanya. Aku jatuh cinta dan rindu ingin segera bertemu. Momen yang singkat, tak terasa ada satu kehidupan baru di dalam perut ini (selain cacing dan bakteri, ups).

Sampai saat ini setelah ZAZ telah 3 tahun kurang, detak jantungnya adalah alunan nada favorit saya yang saya selalu dengar.

 

Catatan kaki:

POV (Point Of View)

Posted in Nostalgia | Leave a comment

ZAZ, mau pilih yang mana?

“Neng, mamah mau di kamar dulu. Waktunya kerja,” aku memberitahu ZAZ, bahwa sekarang saatnya kerja online.

“Neng mau main disini, atau di kamar?” tanyaku.

“Tidak mah, ajwa mah main disini,” jawab ZAZ.

“Kalau gitu, mamah ijin ke kamar ya,” ucapku.

ZAZ hanya asyik bermain. Akupun masuk kamar dan mulai bekerja. Tidak lama dari itu, ZAZ nangis dan mencariku.

“Mamah, main sama ajwa!” rengeknya.

Aku langsung tepok jidat.

“Neng, mamah kan tadi sudah bilang mau kerja. Maaf sekarang belum bisa bermain bersama, tolong tunggu sampai selesai mamah kerja ya. Neng, boleh kok didekat mamah bermainnya,” jelasku.

Tangisnya tidak mau berhenti, aku hanya bisa memangkunya sambil bekerja. Sambil terus mengusap kepalanya dan membujuk agar ZAZ bisa bermain sendiri.

Saya mulai memberikan kalimat agar ZAZ bisa mengambil keputusan. Tapi, sepertinya ZAZ belum bisa berkomitmen dengan kesepakatan yang telah dibuat. Disitu aku harus selalu bersabar, dan berbicara dengam lembut penuh pengertian kepada ZAZ.

ZAZ berproses, Emaknya Berproses.

Posted in Game Level 1, Tantangan Bunsay | Tagged , , , , | Leave a comment

Emak Andalan

ZAZ anak manja. Iya memang iya, setiap anak berhak manja pada ibunya. Anak selalu mengandalkan ibunya bila ada kesulitan. Hanya saja biar tidak terkesan apa-apa selalu balik lagi emak yang mengerjakan semua kesulitan anak, saya harus merubah gaya komunikasi. Terkadang ZAZ anteng sendirian dan melakukan semuanya sendirian atau dengan manja, meminta tolong kepada saya. Dalam kondisi apapun yang sedang dialami ZAZ dalam melakukan aktivitasnya. Saya mulai membiasakan kalimat-kalimat di bawah ini untuk berempati padanya. 

“Apa ada yang sulit, Neng?”

Pertanyaan untuk menganalisa perasaannya, dalam mengerjakan suatu aktivitas. 

“Ada yang bisa Mamah bantu?” 

Pertanyaan untuk membuatnya merasa diperhatikan.

Kalimat-kalimat agak sedikit berhasil menggali apa maunya ketika ZAZ mulai rewel.

ZAZ berproses, Emaknya Berproses

Posted in Game Level 1, Tantangan Bunsay | Tagged , , , , | Leave a comment